Sabtu, 29 Juni 2013
Cerita Dewasa Sexs | Pamer Perawan
Dengan langkah ragu-ragu aku
mendekati ruang dosen di mana Pak
Hr berada. "Winda…", sebuah suara memanggil. "Hei Ratna!". "Ngapain kau cari-cari dosen killer
itu?", Ratna itu bertanya heran. "Tau nih, aku mau minta ujian
susulan, sudah dua kali aku minta
diundur terus, kenapa ya?". "Idih jahat banget!". "Makanya, aku takut nanti di raport
merah, mata kuliah dia kan penting!,
tauk nih, bentar ya aku masuk
dulu!". "He-eh deh, sampai nanti!" Ratna
berlalu. Dengan memberanikan diri aku
mengetuk pintu. "Masuk…!", Sebuah suara yang amat
ditakutinya menyilakannya masuk. "Selamat siang pak!". "Selamat siang, kamu siapa?",
tanyanya tanpa meninggalkan
pekerjaan yang sedang
dikerjakannya. "Saya Winda…!". "Aku..? Oh, yang mau minta ujian lagi
itu ya?". "Iya benar pak." "Saya tidak ada waktu, nanti hari
Mminggu saja kamu datang ke
rumah saya, ini kartu nama saya",
Katanya acuh tak acuh sambil
menyerahkan kartu namanya. "Ada lagi?" tanya dosen itu. "Tidak pak, selamat siang!" "Selamat siang!". Dengan lemas aku beranjak keluar
dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya,
sudah belajar sampai larut malam,
sampai di sini harus kembali lagi hari
Minggu, huh! Mungkin hanya akulah yang hari
Minggu masih berjalan sambil
membawa tas hendak kuliah. Hari ini
aku harus memenuhi ujian susulan di
rumah Pak Hr, dosen berengsek itu. Rumah Pak Hr terletak di sebuah
perumahan elite, di atas sebuah
bukit, agak jauh dari rumah-rumah
lainnya. Belum sempat memijit Bel
pintu sudah terbuka, Seraut wajah
yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul. "Ehh…! Winda, ayo masuk!", sapa
orang itu yang tak lain adalah pak Hr
sendiri. "Permisi pak! Ibu mana?", tanyaku
berbasa-basi. "Ibu sedang pergi dengan anak-
anak ke rumah neneknya!", sahut
pak Hr ramah. "Sebentar ya…", katanya lagi sambil
masuk ke dalam ruangan. Tumben tidak sepeti biasanya ketika
mengajar di kelas, dosen ini terkenal
paling killer. Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding
ruang tamunya bercat putih. Di sudut
ruangan terdapat seperangkat lemari
kaca temapat tersimpan berbagai
barang hiasan porselin. Di tengahnya
ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu. "Gimana sudah siap?", tanya pak Hr
mengejutkan aku dari lamunannya. "Eh sudah pak!" "Sebenarnya…, sebenarnya Winda
tidak perlu mengikuti ulang susulan
kalau…, kalau…!" "Kalau apa pak?", aku bertanya tak
mengerti. Belum habis bicaranya, Pak
Hr sudah menuburuk tubuhku. "Pak…, apa-apaan ini?", tanyaku
kaget sambil meronta mencoba
melepaskan diri. "Jangan berpura-pura Winda sayang,
aku membutuhkannya dan kau
membutuhkan nilai bukan, kau akan
kululuskan asalkan mau melayani
aku!", sahut lelaki itu sambil
berusaha menciumi bibirku. Serentak Bulu kudukku berdiri. Geli,
jijik…, namun detah dari mana
asalnya perasaan hasrat menggebu-
gebu juga kembali menyerangku.
Ingin rasanya membiarkan lelaki tua
ini berlaku semaunya atas diriku. Harus kuakui memang, walaupun dia
lebih pantas jadi bapakku, namun
sebenarnya lelaki tua ini sering
membuatku berdebar-debar juga
kalau sedang mengajar. Tapi aku
tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak
Hr. "Lepaskan…, Pak jangan
hhmmpppff…!", kata-kataku tidak
terselesaikan karena terburu bibirku
tersumbat mulut pak Hr. Aku meronta dan berhasil
melepaskan diri. Aku bangkit dan
berlari menghindar. Namun entah
mengapa aku justru berlari masuk ke
sebuah kamar tidur. Kurapatkan
tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang
terengah-engah, entah mengapa
birahiku sedemikian cepat naik.
Seluruh wajahku terasa panas, kedua
kakikupun terasa gemetar. Pak Hr seperti diberi kesempatan
emas. Ia berjalan memasuki kamar
dan mengunci pintunya. Lalu dengan
perlahan ia mendekatiku. Tubuhku
bergetar hebat manakala lelaki tua
itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku. Dengan sekali
tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr,
bibirku segera tersumbat bibir laki-
laki tua itu. Terasa lidahnya yang
kasap bermain menyapu telak di
dalam mulutku. Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik
bercampur dengan rasa ingin
dicumbui yang semakin kuat hingga
akhirnya akupun merasa sudah
kepalang basah, hati kecilku juga
menginginkannya. Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui
seperti itu oleh Aldy, entah sedang di
mana dia sekarang. aku tidak
menolak lagi. bahkan kini malah
membalas dengan hangat. Merasa mendapat angin kini tangan
Pak Hr bahkan makin berani
menelusup di balik blouse yang aku
pakai, tidak berhenti di situ, terus
menelup ke balik beha yang aku
pakai. Jantungku berdegup kencang ketika
tangan laki-laki itu meremas-remas
gundukan daging kenyal yang ada
di dadaku dengan gemas. Terasa
benar, telapak tangannya yang
kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang
nakal mepermainkan puting susuku.
Gemas sekali nampaknya dia.
Tangannya makin lama makin kasar
bergerak di dadaku ke kanan dan ke
kiri.
Setelah puas, dengan tidak sabaran
tangannya mulai melucuti pakaian
yang aku pakai satu demi satu
hingga berceceran di lantai. Hingga
akhirnya aku hanya memakai secarik
G-string saja. Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan
sarungnya. Di baliknya menyembul
batang penis laki-laki itu yang telah
menegang, sebesar lengan Bayi. Tak terasa aku menjerit ngeri, aku
belum pernah melihat alat vital lelaki
sebesar itu. Aku sedikit ngeri. Bisa
jebol milikku dimasuki benda itu.
Namun aku tak dapat
menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga
pandangan mataku terus tertuju ke
benda itu. Pak Hr berjalan
mendekatiku, tangannya meraih
kunciran rambutku dan menariknya
hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke
punggung. "Kau Cantik sekali Winda…", gumam
pak Hr mengagumi kecantikanku. Aku hanya tersenyum tersipu-sipu
mendengar pujian itu. Dengan lembut Pak Hr mendorong
tubuhku sampai terduduk di pinggir
kasur. Lalu ia menarik G-string, kain
terakhir yang menutupi tubuhku dan
dibuangnya ke lantai. Kini kami
berdua telah telanjang bulat. Tanpa melepaskan kedua belah kakiku,
bahkan dengan gemas ia
mementangkan kedua belah pahaku
lebar-lebar. Matanya benar-benar
nanar memandang daerah di sekitar
selangkanganku. Nafas laki-laki itu demikian memburu. Tak lama kemudian Pak
membenamkan kepalanya di situ.
Mulut dan lidahnya menjilat-jilat
penuh nafsu di sekitar kemaluanku
yang tertutup rambut lebat itu. Aku
memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-
sampai tubuhku dibuat
menggelinjang-gelinjang kegelian. "Pak…!", rintihku memelas. "Pak…, aku tak tahan lagi…!", aku
memelas sambil menggigit bibir.
Sungguh aku tak tahan lagi
mengalamai siksaan birahi yang
dilancarkan Pak Hr. Namun rupanya
lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan
demikian. Ini terlihat dari gerakan
tangannya yang kini bahkan terjulur
ke atas meremas-remas payudaraku,
tetapi tidak menyudahi
perbuatannya. Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah
kuyup. "Paakk…, aakkhh…!", aku
mengerang keras, kakinya menjepit
kepala Pak Hr melampiaskan derita
birahiku, kujambak rambut Pak Hr
keras-keras. Kini aku tak peduli lagi
bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati. Sungguh lihai laki-laki
ini membangkitkan gairahku. aku
yakin dengan nafsunya yang sebesar
itu dia tentu sangat berpengalaman
dalam hal ini, bahkan sangat
mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah
digaulinya. Tapi apa peduliku? Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu
ia berdiri di depanku yang masih
terduduk di tepi ranjang dengan
bagian bawah perutnya persis
berada di depan wajahku. aku sudah
tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri,
tangannya telah meraih kepalaku
untuk dibawa mendekati
kejantanannya yang aduh mak..,
Sungguh besar itu. Tanpa melawan sama sekali aku
membuka mulut selebar-lebarnya,
Lalu kukulum sekalian alat vital Pak
Hr ke dalam mulutku hingga
membuat lelaki itu melek merem
keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya
saja ke dalam mulutku. Itupun sudah
terasa penuh. Aku hampir sesak
nafas dibuatnya. Aku pun bekerja
keras, menghisap, mengulum serta
mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa
benar kepala itu bergetar hebat
setiap kali lidahku menyapu
kepalanya. Beberapa saat kemudian Pak Hr
melepaskan diri, ia membaringkan
aku di tempat tidur dan menyusul
berbaring di sisiku, kaki kiriku
diangkat disilangkan di
pinggangnya. Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika
itu pula kepala penis Pak Hr yang
besar itu menggesek clitoris di liang
senggamaku hingga aku merintih
kenikmatan. Ia terus berusaha
menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat
basah. Pelahan-lahan benda itu
meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba
menekankan miliknya seluruhnya
amblas ke dalam diriku aku tak
kuasa menahan diri untuk tidak
memekik. Perasaan luar biasa
bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang
beberapa detik. Pak Hr cukup mengerti keadaan
diriku, ketika dia selesai masuk
seluruhnya dia memberi kesempatan
padaku untuk menguasai diri
beberapa saat. Sebelum kemudian
dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian
makin lama makin cepat. Aku sungguh tak kuasa untuk tidak
merintih setiap Pak Hr
menggerakkan tubuhnya, gesekan
demi gesekan di dinding dalam liang
senggamaku sungguh membuatku
lupa ingatan. Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara
bibirnya tak hentinya melumat bibir,
tengkuk dan leherku, tangannya
selalu meremas-remas payudaraku.
Aku dapat merasakan puting susuku
mulai mengeras, runcing dan kaku. Aku bisa melihat bagaimana batang
penis lelaki itu keluar masuk ke
dalam liang kemaluanku. Aku selalu
menahan nafas ketika benda itu
menusuk ke dalam. Milikku hampir
tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin
membuat Pak Hr tergila-gila.
Tidak sampai di situ, beberapa menit
kemudian Pak Hr membalik tubuhku
hingga menungging di hadapannya.
Ia ingin pakai doggy style rupanya.
Tangan lelaki itu kini lebih leluasa
meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini
menggantung berat ke bawah.
Sebagai seorang wanita aku memiliki
daya tahan alami dalam bersetubuh.
Tapi bahkan kini aku kewalahan
menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya.
Sudah hampir setengah jam ia
bertahan. Aku yang kini duduk
mengangkangi tubuhnya hampir
kehabisan nafas. Kupacu terus goyangan pinggulku,
karena aku merasa sebentar lagi aku
akan memperolehnya. Terus…,
terus…, aku tak peduli lagi dengan
gerakanku yang brutal ataupun
suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa
itu. Dan ketika klimaks itu sampai,
aku tak peduli lagi…, aku memekik
keras sambil menjambak rambutnya.
Dunia serasa berputar. Sekujur
tubuhku mengejang. Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini.
Sungguh ironi memang, aku
mendapatkan kenikmatan seperti ini
bukan dengan orang yang aku
sukai. Tapi masa bodohlah. Berkali-kali kuusap keringat yang
membasahi dahiku. Pak Hr kemudian
kembali mengambil inisiatif. kini
gantian Pak Hr yang menindihi
tubuhku. Ia memacu keras untuk
mencapai klimaks. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar,
sementara goyangan pinggulnya
pun semakin cepat dan kasar.
Peluhnya sudah penuh membasahi
sekujur tubuhnya dan tubuhku.
Sementara kami terus berpacu. Sungguh hebat laki-laki ini.
Walaupun sudah berumur tapi masih
bertahan segitu lama. Bahkan
mengalahkan semua cowok-cowok
yang pernah tidur denganku,
walaupun mereka rata-rata sebaya denganku. Namun beberapa saat kemudian, Pak
Hr mulai menggeram sambil
mengeretakkan giginya. Tubuh lelaki
tua itu bergetar hebat di atas
tubuhku. Penisnya menyemburkan
cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya. Beberapa saat kemudian, perlahan-
lahan kami memisahkan diri. Kami
terbaring kelelahan di atas kasur itu.
Nafasku yang tinggal satu-satu
bercampur dengan bunyi nafasnya
yang berat. Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami
yang sudah tercerai berai. Aku sendiri terpejam sambil mencoba
merasakan kenikmatan yang baru
saja aku alami di sekujur tubuhku ini.
Terasa benar ada cairan kental yang
hangat perlahan-lahan meluncur
masuk ke dalam liang vaginaku. Hangat dan sedikit gatal menggelitik. Bagian bawah tubuhku itu terasa
benar-benar banjir, basah kuyub.
Aku menggerakkan tanganku untuk
menyeka bibir bawahku itu dan
tanganku pun langsung dipenuhi
dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana. "Bukan main Winda, ternyata kau
pun seperti kuda liar!" kata Pak Hr
penuh kepuasan. Aku yang
berbaring menelungkup di atas
kasur hanya tersenyum lemah. aku
sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak
beristirahat. Persetan dengan
tubuhku yang masih telanjang bulat. Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia
menyulut sebatang rokok. Lalu lelaki
tua itu mulai mengenakan kembali
pakaiannya. Aku pun dengan malas
bangkit dan mengumpulkan
pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil berpakaian ia bertanya,
"Bagaimana dengan ujian saya
pak?". "Minggu depan kamu dapat
mengambil hasilnya", sahut laki-laki
itu pendek. "Kenapa tidak besok pagi saja?",
protes aku tak puas. "Aku masih ingin bertemu kamu,
selama seminggu ini aku minta agar
kau tidak tidur dengan lelaki lain
kecuali aku!", jawab Pak Hr. Aku sedikit terkejut dengan
jawabannya itu. Tapi akupun segera
dapat menguasai keadaanku.
Rupanya dia belum puas dengan
pelayanan habis-habisanku barusan. "Aku tidak bisa janji!", sahutku
seenaknya sambil bangkit berdiri
dan keluar dari kamar mencari kamar
mandi. Pak Hr hanya mampu
terbengong mendengar jawabanku
yang seenaknya itu. Aku sedang berjalan santai
meninggalkan rumah pak Hr, ini
pertemuanku yang ketiga dengan
laki-laki itu demi menebus nilai
ujianku yang selalu jeblok jika ujian
dengan dia. Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main
denganku. Dasar…, namun harus
kuakui, dia laki-laki hebat, daya
tahannya sungguh luar biasa jika
dibandingkan dengan usianya yang
hapir mencapai usia pensiun itu. Bahkan dari pagi hingga sore hari ini
dia masih sanggup menggarapku
tiga kali, sekali di ruang tengah
begitu aku datang, dan dua kali di
kamar tidur. Aku sempat terlelap
sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang.
Berutung kali ini, aku bisa
memaksanya menandatangani
berkas ujian susulanku. "Masih ada mata kuliah Pengantar
Berorganisasi dan Kepemimpinan",
katanya sambil membubuhkan nilai
A di berkas ujianku. "Selama bapak masih bisa
memberiku nilai A", kataku pendek. "Segeralah mendaftar, kuliah akan
dimulai minggu depan!". "Terima kasih pak!" kataku sambil
tak lupa memberikan senyum
semanis mungkin.
"Winda!" teriakan seseorang
mengejutkan lamunanku. Aku
menoleh ke arah sumber suara tadi
yang aku perkirakan berasal dari
dalam mobil yang berjalan perlahan
menghampiriku. Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah
yang sangat aku benci muncul dari
balik pintu Mitsubishi Galant keluaran
tahun terakhir itu. "Masuklah Winda…". "Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan
sendiri koq!", Aku masih mencoba
menolak dengan halus. "Ayolah, masa kau tega menolak
ajakanku, padahal dengan pak Hr
saja kau mau!". Aku tertegun sesaat, Bagai disambar
petir di siang bolong. "Da…,Darimana kau tahu?". "Nah, jadi benar kan…, padahal aku
tadi hanya menduga-duga!" "Sialan!", Aku mengumpat di dalam
hati, harusnya tadi aku bersikap lebih
tenang, aku memang selalu nervous
kalau ketemu cowok satu ini,
rasanya ingin buru-buru pergi dari
hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu. Seperti tipikal orang Indonesia
bagian daerah paling timur, cowok
ini hitam tinggi besar dengan postur
sedikit gemuk, janggut dan cambang
yang tidak pernah dirapikan dengan
rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya
memakai kemeja yang tidak pernah
dikancingkan dengan benar
sehingga memamerkan dadanya
yang penuh bulu. Dengan asesoris
kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian…, cukup
menunjukkan bahwa dia ini orang
yang memang punya duit. Namun,
aku menjadi muak dengan
penampilan seperti itu. Dino memang salah satu jawara di
kampus, anak buahnya banyak dan
dengan kekuatan uang serta gaya
jawara seperti itu membuat dia
menjadi salah satu momok yang
paling menakutkan di lingkungan kampus. Dia itu mahasiswa lama, dan
mungkin bahkan tidak pernah lulus,
namun tidak ada orang yang berani
mengusik keberadaannya di kamus,
bahkan dari kalangan akademik
sekalipun. "Gimana? Masih tidak mau masuk?",
tanya dia setengah mendesak. Aku tertegun sesaat, belum mau
masuk. Aku memang sangat tidak
menyukai laki-laki ini, Tetapi
kelihatannya aku tidak punya pilihan
lain, bisa-bisa semua orang tahu apa
yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin
menjaga rahasia ini, terutama
terhadap Erwin, tunanganku. Namun
saat ini aku benar benar terdesak
dan ingin segera membiarkan
masalah ini berlalu dariku. Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan
saja ajakannya. Dino tertawa penuh kemenangan, ia
lalu berbicara dengan orang yang
berada di sebelahnya supaya
berpindah ke jok belakang. Aku
membanting pantatku ke kursi mobil
depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda.
Kesenangan. "Ke mana kita?", tanyaku hambar. "Lho? Mestinya aku yang harus
tanya, kau mau ke mana?", tanya
Dino pura-pura heran. "Sudahlah Dino, tak usah berpura-
pura lagi, kau mau apa?", Suaraku
sudah sedemikian pasrahnya. Aku
sudah tidak mau berpikir panjang
lagi untuk meminta dia menutup-
nutupi perbuatanku. Orang yang duduk di belakangku tertawa. "Rupanya dia cukup mengerti apa
kemauanmu Dino!", Dia
berkomentar. "Ah, diam kau Maki!" Rupanya orang
itu namanya Maki, orang dengan
penampilan hampir mirip dengan
Dino kecuali rambutnya yang
dipotong crew-cut. "Bagaimana kalau ke rumahku saja?
Aku sangat merindukanmu Winda!",
pancing Dino. "Sesukamulah…!", Aku tahu benar
memang itu yang diinginkannya. Dino tertawa penuh kemenangan. Ia melarikan mobilnya makin
kencang ke arah sebuah kompleks
perumahan. Lalu mobil yang
ditumpangi mereka memasuki
pekarangan sebuah rumah yang
cukup besar. Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu
Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota
Great Corolla namun keduanya
kelihatan diparkir sekenanya tak
beraturan. Interior depan rumah itu sederhana
saja. Cuma satu stel sofa, sebuah rak
perabotan pecah belah. Tak lebih.
Dindingnya polos. Demikian juga
tempok ruang tengah. Terasa betapa
luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak
minuman beraneka ragam terdapat
di sudut ruangan, menghadap ke
taman samping. Sebuah stereo set
terpasang di ujung bar. Tampaknya
baru saja dimatikan dengan tergesa- gesa. Pitanya sebagian tergantung
keluar.
Dari pintu samping kemudian muncul
empat orang pemuda dan seorang
gadis, yang jelas-jelas masih
menggunakan seragam SMU. Mereka
semua mengeluarkan suara
setengah berbisik. Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya
sesuku dengan Dino atau
sebangsanya, sedangkan yang satu
lagi seperti bule dengan rambutnya
yang gondrong. Sementara si gadis
berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang
hitam lurus dan panjang tergerai
sampai ke pinggang, ia memakai
bandana lebar di kepalanya dengan
poni tebal menutupi dahinya.
Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia
keturunan Cina atau sebangsanya.
Harus kuakui dia memang cantik,
seperti bintang film drama Mandarin.
Berbeda dengan penampilan ketiga
laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan
mereka, dilihat dari tampangnya
yang masih lugu. Ia masih
mengenakan seragam sebuah
sekolah Katolik yang langsung bisa
aku kenali karena memang khas. Namun entah mengapa dia bisa
bergaul dengan orang-orang ini. Dino bertepuk tangan. Kemudian
memperkenalkan diriku dengan
mereka. Yos, dan Bram seperti tipikal
orang sebangsa Dino, Tito berbadan
tambun dan yang bule namanya
Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly. Mereka semua yang
laki-laki memandang diriku dengan
mata "lapar" membuat aku tanpa
sadar menyilangkan tangan di depan
dadaku, seolah-olah mereka bisa
melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini. Tampak tak sabaran Dino menarik
diriku ke loteng. Langsung menuju
sebuah kamar yang ada di ujung.
Kamar itu tidak berdaun pintu,
sebenarnya lebih tepat disebut ruang
penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di
salah satu ujungnya merupakan
pintu tembusan ke ruang lain. Di sana ada sebuah kasur yang
terhampar begitu saja di lantai kamar.
Dengan sprei yang sudah acak-
acakan. Di sudut terdapat dua buah
kursi sofa besar dan sebuah meja
kaca yang mungil. Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang
cover depannya saja bisa membuat
orang merinding. Bergambar
perempuan-perempuan telanjang. Aku sadar bahkan sangat sadar, apa
yang dimaui Dino di kamar ini. Aku
beranjak ke jendela. Menutup
gordynnya hingga ruangan itu
kelihatan sedikit gelap. Namun tak
lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu. Aku berputar
membelakangi Dino, dan mulai
melucuti pakaian yang aku kenakan.
Dari blouse, kemudian rok
bawahanku kubiarkan meluncur
bebas ke mata kakiku. Kemudian aku memutar balik badanku berbalik
menghadap Dino. Betapa terkejutnya aku ketika aku
berbalik, ternyata di hadapanku kini
tidak hanya ada Dino, namun Maki
juga sedang berdiri di situ sambil
cengengesan. Dengan gerakan
reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang
setengah telanjang. Melihat
keterkejutanku, kedua laki-laki itu
malah tertawa terbahak-bahak. "Ayolah Winda, Toh engkau juga
sudah sering memperlihatkan tubuh
telanjangmu kepada beberapa laki-
laki lain?". "Kurang ajar kau Dino!" Aku
mengumpat sekenanya. Wajah laki-laki itu berubah seketika,
dari tertawa terbahak-bahak menjadi
serius, sangat serius. Dengan tatapan
yang sangat tajam dia berujar,
"Apakah engkau punya pilihan lain?
Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan
kejadian ini." Aku tertegun, melayani dua orang
sekaligus belum pernah aku lakukan
sebelumnya. Apalagi orang-orang
yang bertampang seram seperti ini.
Tapi seperti yang dia bilang, aku tak
punya pilihan lain. Seribu satu pertimbangan berkecamuk di
kepalaku hingga membuat aku
pusing. Tubuhku tanpa sadar sampai
gemetaran, terasa sekali lututku
lemas sepertinya aku sudah
kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka
sama sekali belum memulainya. Akhirnya, dengan sangat berat aku
menggerakkan kedua tangan ke
arah punggungku di mana aku bisa
meraih kaitan BH yang aku pakai.
Baju yang tadi aku pakai untuk
menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Dengan
sekali sentakan halus BH-ku telah
terlepas dan meluncur bebas dan
sebelum terjatuh ke lantai
kulemparkan benda itu ke arah Dino
yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas. Ia mencium bagian
dalam mangkuk bra-ku dengan
penuh perasaan. "Harum!", katanya. Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu
dari benda itu, dan ketika
ditemukannya ia berhenti. "36B!", katanya pendek. Rupanya ia pingin tahu berapa
ukuran dadaku ini. "BH-nya saja sudah sedemikian
harum, apalagi isinya!", katanya
seraya memberikan BH itu kepada
Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-
ikutan menciumi benda itu. Namun
demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku
yang kini tidak tertutup apa-apa lagi. Aku kini hanya berdiri menunggu,
dan tanpa diminta Dino melangkah
mendekatiku. Ia meraih kepalaku.
Tangannya meraih kunciran rambut
dan melepaskannya hingga
rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung. "Nah, dengan begini kau kelihatan
lebih cantik!"
Ia terus berjalan memutari tubuhku
dan memelukku dari belakang. Ia
sibakkan rambutku dan
memindahkannya ke depan lewat
pundak sebelah kiriku, sehingga
bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang.
Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke
tengkuk belakangku. Lidahnya
menjelajah di sekitar leher, tengkuk
kemudian naik ke kuping dan
menggelitik di sana. Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu
yang tadi memeluk pinggangku kini
mulai merayap naik dan mulai
meremas-remas kedua belah
payudaraku dengan gemas. Aku
masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama
sekali selain memejamkan mataku. Dino rupanya tidak begitu suka aku
bersikap pasif, dengan kasar ia
menarik wajahku hingga bibirnya
bisa melumat bibirku. Aku hanya
berdiam diri saja tak memberikan
reaksi. Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke
dalam mulutku, dan ketika berhasil
lidahnya bergerak bebas menjilati
lidahku hingga secara tak sengaja
lidahkupun meronta-ronta. Sambil memejamkan mata aku
mencoba untuk menikmati perasaan
itu dengan utuh. Tak ada gunanya
aku menolak, hal itu akan
membuatku lebih menderita lagi.
Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan
telapak tangannya di payudaraku
sambil sekali-sekali ibu jari dan
telunjuknya memilin-milin puting
susuku, pertahananku akhirnya
bobol juga. Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai
dengan permaian seperti ini hingga
dengan mudahnya Dino mulai
membangkitkan nafsuku. Bahkan
kini aku mulai memberanikan
menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di
belakangku. Sementara dengan ekor
mataku aku melihat Maki beranjak
berjalan menuju sofa dan duduk di
sana, sambil pandangan matanya
tidak pernah lepas dari kami berdua. Mungkin karena merasa sudah
menguasai diriku, ciuman Dino terus
merambat turun ke leherku,
menghisapnya hingga aku
menggelinjang. Lalu merosot lagi
menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya
hinggap di salah satu pucuk bukit di
dadaku, Dengan satu remasan yang
gemas hingga membuat puting
susuku melejit Dino untuk
mengulumnya. Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu
bergerak memutari seluruh daerah
puting susuku sebelum mulutnya
mengenyot habis puting susuku itu.
Ia menghisapnya dengan gemas
sampai pipinya kempot. Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan
disengat listrik, terasa geli yang luar
biasa bercampur sedikit nyeri di
bagian itu. Aku menggelinjang,
melenguh apalagi ketika puting
susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino. Buah anggur yang ranum itu
dipermainkan pula dengan lidah
Dino yang kasap. Dipilin-pilinnya
kesana kemari. Dikecupinya, dan
disedotnya kuat-kuat sampai
putingnya menempel pada telaknya. Aku merintih. Tanganku refleks
meremas dan menarik kepalanya
sehingga semakin membenam di
kedua gunung kembarku yang putih
dan padat. Aku sungguh tak tahu
mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu. Mengapa aku
justeru tenggelam dalam permaianan
itu? Semula aku hanya merasa
terpaksa demi menutupi rahasia atas
perbuatanku. Tapi kemudian
nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam. Dan aneh
sekali, Tanpa sadar aku mulai
mengikuti permainan yang dipimpin
dengan cemerlang oleh Dino. "Winda…", "Ya?", "Kau suka aku
perlakukan seperti ini?". Aku hanya
mengangguk. Dan memejamkan
matanya. membiarkan payudaraku
terus diremas-remas dan puting
susunya dipilin perlahan. Aku menggeliat, merasakan nikmat yang
luar biasa. Puting susu yang mungil
itu hanya sebentar saja sudah
berubah membengkak, keras dan
mencuat semakin runcing. "Hsss…, ah!", Aku mendesah saat
merasakan jari-jari tangan lelaki itu
mulai menyusup ke balik celana
dalamku dan merayap mencari liang
yang ada di selangkanganku. Dan
ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-
usap permukaannya, terus
mengusap-usap dan ketika sudah
terasa basah jarinya mulai merayap
masuk untuk kemudian menyentuh
dinding-dinding dalam liang itu. Dalam posisi masih berdiri
berhadapan, sambil terus
mencumbui payudaraku, Dino
meneruskan aksinya di dalam liang
gelap yang sudah basah itu. Makin
lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan,
kedua buah jari yang ada di dalam
liang vaginaku itu bergerak-gerak
dengan liar. Bahkan kadang-kadang
mencoba merenggangkan liang
vaginaku hingga menganga. Dan yang membuat aku tambah gila, ia
menggerak-gerakkan jarinya keluar
masuk ke dalam liang vaginaku
seolah-olah sedang menyetubuhiku.
Aku tak kuasa untuk menahan diri.
"Nggghh…!", mulutku mulai
meracau. Aku sungguh kewalahan
dibuatnya hingga lututku terasa
lemas hingga akhirnya akupun tak
kuasa menahan tubuhku hingga
merosot bersimpuh di lantai. Aku mencoba untuk mengatur nafasku
yang terengah-engah. Aku sungguh
tidak memperhatikan lagi yang
kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah
berdiri telanjang bulat di hadapanku.
Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan
angkuhnya berdiri mengangkang
persis di depanku sehingga wajahku
persis menghadap ke bagian
selangkangannya. Disitu, aku melihat
batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang
kehitaman dengan bulu hitam yang
lebat di daerah pangkalnya. Dengan sekali rengkuh, ia meraih
kepalaku untuk ditarik mendekati
daerah di bawah perutnya itu. Aku
tahu apa yang dimauinya, bahkan
sangat tahu ini adalah perbuatan
yang sangat disukai para lelaki. Di mana ketika aku melakukan oral
seks terhadap kelaminnya. Maka, dengan kepalang basah,
kulakukan apa yang harus
kulakukan. Benda itu telah masuk ke
dalam mulutku dan menjadi
permainan lidahku yang berputar
mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu. Lalu
berhenti ketika menemukan lubang
yang berada persis di ujungnya. Lalu
dengan segala kemampuanku aku
mulai mengelomoh batang itu sambil
kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya
bergetar hebat menahan rasa yang
tak tertahankan. Pada saat itu aku sempat melirik ke
arah sofa di mana Maki berada, dan
ternyata laki-laki ini sudah mulai
terbawa nafsu menyaksikan
perbuatan kami berdua. Buktinya, ia
telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya
naik turun sambil berkali-kali
menelan ludah. Konsentrasiku buyar
ketika Dino menarik kepalaku
hingga menjauh dari
selangkangannya. Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas
kasur yang terhampar di situ. Lalu
dengan cepat ia melucuti celana
dalamku dan dibuangnya jauh-jauh
seakan-akan ia takut aku akan
memakainya kembali. Untuk beberapa detik mata Dino
nanar memandang bagian bawah
tubuhku yang sudah tak tertutup
apa-apa lagi. Si Makipun sampai
berdiri mendekat ke arah kami
berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan. Namun beberapa detik kemudian,
Dino mulai merenggangkan kedua
belah pahaku lebar-lebar. Paha
kiriku diangkatnya dan
disangkutkan ke pundaknya. Lalu
dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya
dan diusap-usapkan ke permukaan
bibir vaginaku yang sudah sangat
basah. Ada rasa geli menyerang di
situ hingga aku menggelinjang dan
memejamkan mata. Sedetik kemudian, aku merasakan
ada benda lonjong yang mulai
menyeruak ke dalam liang vaginaku.
Aku menahan nafas ketika terasa
ada benda asing mulai menyeruak di
situ. Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat
pertama kali ada kejantanan laki-laki
menyeruak masuk ke dalam liang
vaginaku. Dengan perlahan namun pasti,
kejantanan Dino meluncur masuk
semakin dalam. Dan ketika sudah
masuk setengahnya ia bahkan
memasukkan sisanya dengan satu
sentakan kasar hingga aku benar- benar berteriak karena terasa nyeri.
Dan setelah itu, tanpa memberiku
kesempatan untuk membiasakan diri
dulu, Dino sudah bergoyang mencari
kepuasannya sendiri. Dino menggerak-gerakkan
pinggulnya dengan kencang dan
kasar menghunjam-hunjam ke dalam
tubuhku hingga aku memekik keras
setiap kali kejantanan Dino
menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat
yang tak terkira. Ada sensasi aneh
yang baru pertama kali kurasakan di
mana di sela-sela rasa ngilu itu aku
juga merasakan rasa nikmat yang tak
terkira. Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku
sampai menangis menggebu-gebu,
sakit keluhku setiap kali Dino
menghunjam, tapi aku semakin
mempererat pelukanku, Pedih, tapi
aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap
diriku. Aku semakin merintih. Air mataku
meleleh keluar. kami terus bergulat
dalam posisi demikian. Sampai tiba-
tiba ada rasa nikmat yang luar biasa
di sekujur tubuhku. Aku telah
orgasme. Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci.
Tubuhku mengejang selama
beberapa puluh detik. Sebelum
melemas. Namun Dino rupanya
belum selesai. Ia kini membalikkan
tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan
kedua lututku. Ia ingin
meneruskannya dengan doggy style.
Aku hanya pasrah saja. Kini ia menyetubuhiku dari belakang.
Tangannya kini dengan leluasa
berpindah-pindah dari pinggang,
meremas pantat dan meremas
payudaraku yang menggelantung
berat ke bawah. Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya. Ia
bisa dengan leluasa
menggoyangkan tubuhnya dengan
cepat dan semakin kasar. Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah
duduk mengangkang di depanku.
Laki-laki ini juga telah telanjang bulat.
Ia menyodorkan batang penisnya ke
dalam mulutku, tangannya meraih
kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang
kejantanannya itu ke dalam mulutku.
Kini aku melayani dua orang
sekaligus. Dino yang sedang
menyetubuhiku dari belakang. Dan
Maki yang sedang memaksaku
melakukan oral seks terhadap
dirinya. Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan
untuk menikmati payudaraku. Aku
mengerang pelan setiap kali ia
menghisap puting susuku. Dengan
dua orang yang mengeroyokku aku
sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Malahan aku
merasa sangat terangsang dengan
posisi seperti ini. Mereka menyetubuhiku dari dua
arah, yang satu akan menyebabkan
penis pada tubuh mereka yang
berada di arah lainnya semakin
menghunjam. Kadang-kadang aku
hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku
mengalah dan hanya diam saja. Dino
yang mengatur segala gerakan. Perlahan-lahan kenikmatan yang
tidak terlukiskan menjalar di sekujur
tubuhku. Perasaan tidak berdaya
saat bermain seks ternyata
mengakibatkan diriku melambung di
luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya. Dan kembali tubuhku
mengejang, deras dan tanpa henti.
Aku mengalami orgasme yang
datang dengan beruntun seperti tak
berkesudahan. Tidak lama kemudian Dino
mengalami orgasme. Batang
penisnya menyemprotkan air mani
dengan deras ke dalam liang
vaginaku. Benda itu menyentak-
nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku.
Aku bisa merasakan air mani yang
disemprotkannya banyak sekali,
hingga sebagian meluap keluar
meleleh di salah satu pahaku.
Sesudah itu mereka berganti tempat. Maki mengambil alih perlakuan Dino.
Masih dalam posisi doggy style.
Batang kejantanannya dengan mulus
meluncur masuk dalam sekali sampai
menyentuh bibir rahimku. Ia bisa
mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah
sangat licin dilumasi cairan yang
keluar dari dalamnya dan sudah
bercampur dengan air mani Dino
yang sangat banyak. Permainan
dilanjutkan. Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino
dengan nafas yang tersengal-sengal
telah duduk telentang di atas sofa
yang tadi diduduki Maki untuk
mengumpulkan tenaga. Aku
mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya. Maki
terus memacu gerakkannya. Semakin
lama semakin keras dan kasar
hingga membuat aku merintih dan
mengaduh tak berkesudahan. Pada saat itu masuk Bram dan Tito
bersamaan ke dalam ruangan. Tanpa
basa-basi, mereka pun langsung
melucuti pakaiannya hingga
telanjang bulat. Lalu mereka duduk
di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara
aku dan Maki. Bram nampak
kelihatan tidak sabaran Tetapi aku
sudah tidak peduli lagi. Maki terus
memacu menggebu-gebu. Laki-laki
itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung
berat ke bawah. Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan
kembali telentang di atas kasur dan
pada saat itu Bram dengan tangkas
menyodorkan batang kejantanannya
ke dalam mulutku. Aku sudah
setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti
tubuhku. Keadaanku sudah
sedemikian acak-acakan. Rambut
yang kusut masai. Tubuhku sudah
bersimpah peluh. Tidak hanya
keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat
dari para laki-laki yang bergantian
menggauliku. Aku kini hanya
telentang pasrah ditindihi tubuh
gemuk Tito yang bergoyang-goyang
di atasnya. Laki-laki gemuk itu
mengangkangkan kedua belah
pahaku lebar-lebar sambil terus
menghunjam-hunjamkan miliknya
ke dalam milikku. Sementara Bram
tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas. Ia terus
saja menjejal-jejalkan miliknya ke
dalam mulutku. Aku sendiri sudah
tidak bisa mengotrol diriku lagi.
Guncangan demi guncangan yang
diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin
terangsang. Bukan lagi kuluman dan
jilatan yang harusnya aku lakukan
dengan lidah dan mulutku. Dan ketika Tito melenguh panjang, ia
mencapai orgasmenya dengan
meremas kedua belah payudaraku
kuat-kuat hingga aku berteriak
mengaduh kesakitan. Lalu beberapa
saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan
diri dari diriku. Dan pada saat hampir
bersamaan Bram juga mengerang
keras. Batang kejantanannya yang
masih berada di dalam mulutku
bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat.
Aku meronta, ingin mengeluarkan
banda itu dari dalam mulutku, namun
tangan Bram yang kokoh tetap
menahan kepalaku dan aku tak
kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis. Cairan
kental yang hangat itu akhirnya
tertelan olehku. Banyak sekali.
Bahkan sampai meluap keluar
membasahi daerah sekitar bibirku
sampai meleleh ke leher. Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan
cepat mencoba menelan semua yang
ada supaya tidak terlalu terasa di
dalam mulutku. Aku memejamkan
mata erat-erat, tubuhku mengejang
melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi
aneh yang luar biasa juga di dalam
diriku. Sungguh sangat erotis
merasakan siksa birahi semacam ini
hingga akupun akhirnya orgasme
panjang untuk ke sekian kalinya.
Dengan ekor mataku aku kembali
melihat seseorang masuk ke
ruangan yang ternyata si bule dan
orang itu juga mulai membuka
celananya. Aku menggigit bibir, dan
mulai menangis terisak-isak. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika
Marchell mulai menindihi tubuhku.
Pasrah. Tidak lama kemudian setelah orang
terakhir melaksanakan hasratnya
pada diriku mereka keluar. aku
merasa seluruh tubuhku luluh lantak.
Setelah berhasil mengumpulkan
cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari
tempat tidur, mengenakan
pakaianku seadanya dan pergi
mencari kamar mandi. Aku berpapasan dengan Dino yang
muncul dari dalam sebuah ruangan
yang pintunya terbuka. Lelaki itu
sedang sibuk mengancingkan
retsluiting celananya. Masih sempat
terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang
telanjang sedang ditindihi oleh tubuh
Maki yang bergerak-gerak cepat.
Memacu naik turun. Gadis itu
menggelinjang-gelinjang setiap kali
Maki bergerak naik turun. Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku. "Di mana aku bisa menemukan
kamar mandi?" tanyaku pada Dino. Tanpa menjawab, ia hanya
menunjukkan tangannya ke sebuah
pintu. Tanpa basa-basi lagi aku
segera beranjak menuju pintu itu. Di sana aku mandi berendam air
panas sambil mengangis. Aku tidak
tahu saya sudah terjerumus ke dalam
apa kini. Yang membuat aku benci
kepada diriku sendiri, walaupun aku
merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun
demikian setiap kali teringat kejadian
barusan, langsung saja
selangkanganku basah lagi. Aku berendam di sana sangat lama,
mungkin lebih dari satu jam lamanya.
Setelah terasa kepenatan tubuhku
agak berkurang aku menyudahi
mandiku. Dengan berjalan tertatih-
tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu
keluar. Sudah hampir jam sebelas
malam ketika aku keluar dari rumah
itu. Sampai di dalam rumah, Aku
langsung ngeloyor masuk ke kamar.
Aku tak peduli dengan kakakku
yang terheran-heran melihat tingkah
lakuku yang tidak biasa, aku tak
menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara
lagi malam ini. Aku tumpahkan
segala perasaan campur aduk itu,
kekesalan, dan sakit hati dengan
menangis.
Cerita Dewasa Sedarah | Anak angkatku Jadikan Pelampiasan Nafsu Ku
Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia kepala 3 ini. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel.
Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas di luar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun kedua anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian ketiganya mengawasiku. Tommy anak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Bagus yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri.
Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kemaluan laki-laki! Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Bagus sudah pergi, dan tinggal Tommy yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup. Aku pun segera melorotkan CD-ku dan langsung menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang kemaluanku. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Tommy, anak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.
Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Tommy tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Tommy. Anak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai mamanya.
Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak sulungku itu.
"Bercintalah dengan Mama, Tommy!" pintaku sambil mengelus-elus selangkangan Tommy yang sudah tegang.
Tommy tersenyum, "Mama tahu, sejak Tommy berumur 17 Tommy sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Tommy bercinta dengan Mama..."
Aku terperangah mendengar omongannya.
"Dan sering kalo Mama tidur, Tommy telanjangin bagian bawah Mama serta menjilatin kemaluan Mama."
Aku tak percaya mendengar perkataan anak sulungku ini.
"Dan kini dengan senang hati Tommy akan entot Mama sampai Mama puas!".
Tommy langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan anakku sedemikian rupa, hanya sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Tommy melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang waktu kecil pernah Tommy hisap, kembali dihisap anak sulungku itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampai mengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Tommy. Ciuman Tommy berlanjut ke perut, dan anakku itu pun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Tommy lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks.
Tommy tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang tempat di mana dia dulu pernah keluar. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina mamanya, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Tommy tak peduli, anak sulungku itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi. Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Tommy tersenyum lagi. Anakku itu kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi mamanya dengan penisnya yang telah tegang. Tommy bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, "Tunggu sayang, biar Mama kulum burungmu itu sebentar." Tommy menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis anakku itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara anakku membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.
"Sekarang kau boleh entot kemaluan Mama, Tom.." kataku setelah puas mengulum penisnya. Anakku itu mengangguk. Penisnya segera dibimbing anakku menuju lubang kemaluan tempat Tommy lahir. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Tommy untuk masuk ke dalam dengan mulus. "Ahh.. Tomm!" aku mendesah saat penis Tommy amblas dalam kemaluanku. Tommy lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Tommy seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Tommy, mulai dari gaya anjing sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi anak sulungku itu belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa.
Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Tommy mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Tommy memeluk dengan erat, saat itu pula air mani anak sulungku itu membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya. Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Tommy dengan cairanku sendiri. Tommy masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Bagus pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari anakku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.
Persiapan klub menjelang musim 2013-14
Rajamaya.info - Persiapan klub menjelang musim 2013-14 adalah fitur pembuka kompetisi yang layak dinanti. Aktivitas klub di bursa transfer, bisa dibilang juga ditunggu oleh pemerhati sepakbola.
Kali ini kami akan membahas rencana manajemen klub, dalam urusan 'merampingkan' atau efisiensi skuad menjelang ketatnya kompetisi. Beberapa klub top eropa seperti Real Madrid, Juventus, Bayern Munich dan Manchester United terbilang cukup aktif dalam urusan transfer sejauh ini.
Bukan 'siapa pemain yang dibeli', namun 'siapa pemain yang akan dilepas' beberapa klub top di Eropa, berikut ini kolom editorial mengenai "Unwanted: Daftar Jual Klub Top Eropa" selengkapnya.
Rooney dan Enam Bintang Paling Diburu Dalam Berita Bola Terkini
Rajamaya.info - Kompetisi 2013-14 masih memasuki masa jeda, dan kebanyakan tim-tim elit Eropa tengah sibuk mencari pemain baru guna menambah amunisi menjelang musim baru.
Beberapa pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney dilaporkan menjadi rebutan banyak klub. Spekulasi tersebut tengah dinanti oleh pemerhati sepakbola di seluruh dunia. Namun, apa bisa terealisasi?
Sayangnya, bukan Ronaldo dan Rooney saja yang menjadi rebutan klub-klub Eropa. Penasaran? Berikut ini kolom editorial "Enam Bintang Paling Diburu Klub Top Eropa" selengkapnya.
10 Pemain Inggris di Spanyol menjadi Sebuah Pertimbangan Bagi Rooney
Rajamaya.info - Penyerang Manchester United, Wayne Rooney belakangan santer dikabarkan menjadi buruan Barcelona. Namun apakah menerima pinangan raksasa Catalan itu sebuah langkah bijak untuknya?
Dilaporkan mulai tak kerasa di Old Trafford, striker Inggris berusia 27 tahun itu disebut lebih memilih Camp Nou sebagai tujuan berikutnya - mengabaikan peminat lain macam Chelsea, Arsenal dan PSG.
Meski ditentukan banyak faktor, performa para pemain Inggris yang mencoba peruntungan di tanah Spanyol bisa jadi pertimbangan untuk Rooney. Apakah ia akan bergabung dengan daftar mereka yang sukses, atau malah gagal? Berikut rapor 10 pemain Inggris di Spanyol yang disusun SunSport.
Inilah Alasan Neymar Dan Messi Tak Akan Akur
Rajamaya.info - Beberapa pihak mulai menyuarakan keraguan mereka mengenai duet Lionel Messi dengan Neymar. Banyak tokoh yang menilai dua pemain hebat ini akan sulit disatukan dalam satu tim.
Barcelona FC membayar 57 juta euro untuk menarik Neymar ke Camp Nou. Tujuan awal mereka sudah pasti adalah untuk mengurangi Messidependencia yang selama ini menjadi salah satu momok Blaugrana.
Tak ada yang meragukan kualitas Messi dan Neymar (kecuali mungkin Joey Barton yang menyebut Neymar sebagai Justin Bieber-nya sepakbola). Namun juga tak bisa dibantah bahwa menyatukan dua talenta tidaklah semudah membalik telapak tangan.
Johan Cruyff adalah yang paling lantang dalam menyuarakan keraguannya. Ia menyebut pembelian Neymar merupakan perjudian besar yang bisa saja merusak harmoni Barca. Namun Cruyff juga mengakui bahwa duet Neymar-Messi bisa jadi tandem paling menakutkan di seantero Eropa.
Berikut adalah beberapa alasan yang membuat sebagian kalangan berpikir Messi dan Neymar tak akan bisa akur.
Ronaldo Berduet Dengan SBY Menanam Mangrove Setiba Di Bali
Ratumaya.com - Tiba di Bali, Cristiano Ronaldo dijadwalkan menanam Mangrove bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di acara Save Mangrove, Save Earth. Ronaldo sendiri datang Rabu (26/6) dini hari sebagai Duta Forum Peduli Mangrove di acara Save Mangrove, Save Earth.
"Ronaldo tiba dengan pesawat jet pribadi pukul 00.30 Wita. Bukan untuk menanam bola, tapi kampanye penyelamatan mangrove," ucap Direktur Artha Graha Networks Wisnu Tjandra seperti dilansir dari Antara.
Pesawat yang membawa bintang sepakbola Real Madrid dan sang pacar supermodel, Irina Shayk, mendarat di Pangkalan Angkatan Udara Ngurah Rai. Menurut Wisnu, tidak ada jadwal Ronaldo menendang bola. Semua acara terkait dengan upaya konservasi lingkungan, khususnya penyelamatan hutan bakau.
"Ronaldo datang jauh-jauh, terbang dari New York, ke Bali karena dia dan Irina sangat peduli kepada lingkungan," imbuhnya.
Pihak Artha Graha Peduli Mangrove berharap Ronaldo menjadi perhatian bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia agar semua peduli dengan penyelamatan mangrove yang berarti menyelamatkan dunia.
"Ronaldo itu dipuja penggemarnya, sekali posting tanam bakau di Twitter, followernya yang puluhan bahkan ratusan juta terekspos kampanye mangrove di sini," pungkas Wisnu.
Langganan:
Postingan (Atom)






